Showing posts with label usrah. Show all posts
Showing posts with label usrah. Show all posts

04 September 2012

..Ukkhuwah Islamiyah..



Dari Abu Hamzah, Anas bin Mâlik Radhiyallahu 'anhu, dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian hingga ia mencintai untuk saudaranya segala apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri berupa kebaikan”. [HR al-Bukhâri dan Muslim]



TAKHRIJ HADITH
Hadits ini shahîh, diriwayatkan oleh:
1. Al-Bukhâri (no. 13).
2. Muslim (no. 45).
3. Ahmad (III/176, 206, 251, 272, 289).
4. Abu ‘Awanah (I/33).
5. At-Tirmidzi (no. 2515).
6. Ibnu Majah (no. 66).
7. An-Nasa`i (VIII/115).
8. Darimi (II/307).
9. Abu Ya’la (no. 2880, 3171, 3069, 3245).
10. Ibnu Hibban (no. 234, 235).

Hadits di atas dikeluarkan oleh al-Bukhâri dan Muslim dalam kitab Shahîh keduanya, dari hadits Qatadah, dari Anas; sedangkan lafazh milik Muslim berbunyi:


حَتَّى يُحِبَّ ِلأَخِيْهِ ، أَوْ قَالَ : لِجَارِهِ.
"Hingga ia mencintai untuk saudaranya; atau beliau bersabda: Untuk tetangganya "

Dan Ahmad, Ibnu Hibban, dan Abu Ya’la mengeluarkan pula hadits yang semakna dengan lafazh:


لاَ يَبْلُغُ عَبْدٌ حَقِيْقَةَ اْلإِيْمَانِ حَتَّى يُحِبَّ لِلنَّاسِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ مِنَ الْخَيْرِ.
"Seorang hamba tidak dapat mencapai hakikat iman, hingga ia mencintai kebaikan untuk manusia seperti yang ia cintai untuk dirinya."

SYARAH HADITH
Syaikh al-Albâni rahimahulllah berkata, “Ketahuilah bahwa tambahan ini مِنَ الْخَيْرِ (berupa kebaikan), adalah tambahan yang sangat penting yang dapat menentukan makna yang dimaksud dalam hadits ini, karena kata “kebaikan” adalah satu kata yang mencakup berbagai amal ketaatan dan perbuatan mubah, baik dalam masalah dunia maupun akhirat -selain yang dilarang karena kata “kebaikan” tidak mencakupnya- sebagaimana sudah jelas. Salah satu kesempurnaan akhlak seorang muslim, ialah ia mencintai kebaikan untuk saudaranya sesama muslim, seperti yang ia cintai untuk dirinya sendiri. Demikian pula ia membenci kejelekan untuk saudaranya, seperti kebenciannya untuk dirinya sendiri. Meskipun hal ini tidak disebutkan dalam hadits, namun ini termasuk dalam kandungannya karena mencintai sesuatu mengharuskan membenci sesuatu yang menjadi lawannya.”[1]

Al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah mengatakan [2]: “Riwayat Imam Ahmad rahimahullah di atas menjelaskan hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhâri dan Muslim, dan bahwa yang dimaksud dengan tidak beriman ialah tidak mencapai hakikat dan puncak iman karena iman seringkali dianggap tidak ada karena ketiadaan rukun-rukun dan kewajiban-kewajibannya, seperti sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.


لاَ يِزْنِي الزَّانِي حِيْنَ يَزْنِي وَهُوَ مُؤْمِنٌ ، وَلاَ يَسْرِقُ السَّارِقُ حِيْنَ يَسْرِقُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ ، وَلاَ يَشْرَبُ الْخَمْرَ حِيْنَ يَشْرَبُهَا وَهُوَ مُؤْمَنٌ.
"Pezina tidak berzina ketika ia berzina sedang ia dalam keadaan mukmin; pencuri tidak mencuri ketika ia mencuri sedang ia dalam keadaan mukmin; dan orang tidak minum minuman keras ketika ia meminumnya sedang ia dalam keadaan beriman" [3]

Juga seperti sabda beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam:


لاَ يُؤْمِنُ مَنْ لاَ يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ.
"Tidak beriman orang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguan-gangguannya" [4]

Imam an-Nawawi rahimahullah berkata,“Para ulama mengatakan bahwa maknanya ialah tidak beriman dengan iman yang sempurna, karena pokok iman itu ada pada orang yang tidak memiliki sifat ini”.[5]

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani t berkata, “Yang dimaksud ialah dinafikannya kesempurnaan iman. Penafian nama sesuatu dengan makna menafikan kesempurnaannya telah masyhur dalam dialek bangsa Arab, seperti perkataan mereka, ‘Si fulan itu bukan manusia’.” [6] Maksudnya, dinafikan salah satu sifatnya.

Al-Hafizh ‘Amr bin Shalah rahimahullah mengatakan, “Maknanya, tidak sempurna iman seseorang hingga ia mencintai untuk saudara semuslim seperti ia mencintai untuk dirinya sendiri”.[7]

Para ulama berbeda pendapat tentang pelaku dosa besar; apakah dia dinamakan mukmin yang kurang imannya atau tidak dikatakan mukmin? Sesungguhnya yang benar dikatakan: dia muslim dan bukan mukmin menurut salah satu dari dua pendapat, dan kedua pendapat tersebut diriwayatkan dari Imam Ahmad, atau ia mukmin dengan imannya dan fasik dengan dosa besarnya.

Adapun orang yang mengerjakan dosa-dosa kecil, iman tidak hilang dari dirinya secara total, namun ia orang mukmin yang kurang beriman dan imannya berkurang sesuai dengan kadar dosa kecil yang ia kerjakan.

Sedangkan pendapat yang mengatakan bahwa pelaku dosa besar dinamakan seorang mukmin yang kurang imannya diriwayatkan dari Jabir bin ‘Abdillah Radhiyallahu 'anhu, dan merupakan pendapat Ibnul-Mubarak, Ishaq, Ibnu ‘Ubaid, dan selain mereka.

Maksud hadits di atas ialah di antara sifat iman yang wajib, adalah seseorang mencintai untuk saudaranya yang mukmin apa yang ia cintai untuk dirinya dan membenci untuknya apa yang ia benci untuk dirinya sendiri. Jika sifat tersebut hilang darinya, maka imannya berkurang.[8]

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:


مَنْ أَحَبَّ لِلَّهِ وَأَبْغَضَ لِلَّهِ وَأَعْطَى لِلَّهِ وَمَنَعَ لِلَّهِ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ اْلإِيْمَانُ.
"Barangsiapa mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah, dan menahan (tidak memberi) karena Allah, maka sungguh, telah sempurna imannya".[9]

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:


مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُزَحْزَحَ عَنِ النَّارِ وَيُدْخَلَ الْجَنَّةَ فَلْتَأْتِهِ مَنِيَّتُهُ وَهُوَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ، وَلْيَأْتِ إِلَى النَّاسِ الَّذِيْ يُحِبُّ أَنْ يُؤْتَى إِلَيْهِ.
"Barang siapa ingin dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka hendaklah ia mati dalam keadaan beriman kepada Allah dan hari Akhir, dan hendaklah ia menunaikan dan berbuat (kebaikan) kepada orang lain apa yang ia senang bila orang lain (berbuat baik) kepadanya".[10]

Dalam Shahîh Muslim juga disebutkan dari hadits Abu Dzarr Radhiyallahu 'anhu ia berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepadaku:


يَا أَبَا ذَرٍّ! إِنِّي أَرَاكَ ضَعِيْفًا، وَإِنِّي أُحِبُّ لَكَ مَا أُحِبُّ لِنَفْسِيْ، لاَ تَتَأَمَّرَنَّ عَلَى اثْنَيْنِ، وَلاَ تَوَلَّيَنَّ مَالَ يَتِيْمٍ.
"Wahai, Abu Dzarr! Sungguh, aku melihat engkau sebagai orang yang lemah dan aku mencintai untuk dirimu apa yang aku cintai untuk diriku. Janganlah engkau memimpin dua orang, dan jangan pula memegang harta anak yatim”.[11]

Dari an-Nu’man bin Basyir dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda:


مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ، مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى.
"Perumpamaan kaum mukminin dalam cinta-mencintai, sayang-menyayangi dan bahu-membahu, seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuhnya sakit, maka seluruh anggota tubuhnya yang lain ikut merasakan sakit juga, dengan tidak bisa tidur dan demam".[12]

Ini menunjukkan, bahwa orang mukmin terganggu dengan apa saja yang mengganggu saudaranya yang mukmin dan sedih oleh apa saja yang membuat saudaranya sedih.

Dan hadits Anas Radhiyallahu 'anhu yang sedang kita bicarakan ini menunjukkan, bahwa orang mukmin dibuat gembira oleh sesuatu yang membuat gembira saudaranya yang mukmin dan menginginkan kebaikan untuk saudaranya yang mukmin seperti yang ia inginkan untuk dirinya sendiri. Ini semua terjadi karena seorang mukmin hatinya harus bersih dari dengki, penipuan, dan hasad. Hasad membuat pelakunya tidak mau diungguli siapa pun dalam kebaikan atau diimbangi di dalamnya, karena orang yang hasad senang lebih unggul atas seluruh kelebihannya dan ia sendiri yang memilikinya tanpa siapa pun dari manusia.

Sedangkan iman menghendaki kebalikannya yaitu agar ia diikuti seluruh kaum mukminin dalam kebaikan yang diberikan Allah kepadanya tanpa mengurangi sedikit pun kebaikannya.[13]

Dalam Al-Qur`ân Allah Ta’ala memuji orang-orang yang tidak ingin sombong dan tidak membuat kerusakan di bumi. Allah Ta’ala berfirman:

"Negeri akhirat itu Kami jadikan bagi orang-orang yang tidak menyombongkan diri dan tidak membuat kerusakan di bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu bagi orang-orang yang bertakwa".[al-Qashshash/28:83].

Mengenai ayat ini, ‘Ikrimah dan selainnya dari para ahli tafsir mengatakan: “Maksud dari kata al-‘uluwwu fil ardhi, ialah sombong, mencari kehormatan, dan kedudukan pada pemiliknya. Sedangkan maksud al-fasâd, ialah mengerjakan berbagai kemaksiatan”.[14]

Ada dalil yang menunjukkan bahwa orang yang tidak ingin disaingi orang lain dalam ketampanan itu tidak berdosa.

Imam Ahmad dan al-Hakim dalam Shahîh-nya dari hadits Ibnu Mas’ud, ia berkata: “Aku datang kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan ketika itu Malik bin Mirarah ar-Rahawi berada di tempat beliau. Aku dapati Malik bin Murarah ar-Rahawi berkata, ‘Wahai Rasulullah! Aku telah diberi ketampanan seperti yang telah engkau lihat; oleh karena itu, aku tidak ingin salah seorang manusia mengungguliku dengan tali sandal dan selebihnya, apakah itu termasuk kezhaliman?’ Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, ‘Tidak. Itu tidak termasuk kezhaliman, namun kezhaliman ialah orang yang sombong.’ Atau beliau bersabda, ‘Namun kezhaliman ialah orang yang menolak kebenaran dan menghina manusia”.[15]

Imam Abu Dawud rahimahullah meriwayatkan hadits semakna dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Di haditsnya disebutkan kata al-kibru (sombong) sebagai ganti dari kata al-baghyu (kezhaliman). Pada hadits di atas Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak mengatakan ketidaksukaan Malik bin Murarah untuk disaingi siapa pun dalam ketampanan sebagai bentuk kezhaliman atau kesombongan. Beliau juga menafsirkan kesombongan dan kezhaliman dengan arti merendahkan kebenaran, yang tidak lain adalah sombong terhadapnya dan menolak menerima kebenaran karena sombong jika kebenaran tersebut bertentangan dengan hawa nafsunya.

Dari sinilah salah seorang ulama Salaf mengatakan: “Tawadhu`, ialah engkau menerima kebenaran dari siapa pun yang membawanya kendati yang membawanya adalah anak kecil. Barang siapa menerima kebenaran dari siapa pun yang membawanya: anak kecil, atau orang dewasa, orang yang dicintainya, atau orang yang dibencinya, maka ia orang yang tawadhu`. Dan barang siapa menolak menerima kebenaran karena sombong terhadapnya, maka ia orang yang sombong”.

Sedangkan menghina manusia dan merendahkan mereka bisa terjadi dengan cara seseorang melihat pribadinya sebagai orang yang sempurna dan melihat orang lain sebagai orang yang tidak sempurna.

Kesimpulannya, seorang mukmin harus mencintai untuk kaum mukminin apa yang ia cintai untuk dirinya dan tidak menyukai untuk mereka apa yang tidak ia sukai untuk dirinya. Jika ia melihat kekurangan dalam hal agama pada saudaranya, ia berusaha untuk memperbaikinya.

Salah seorang yang shâlih dari ulama Salaf berkata: “Orang-orang yang mencintai Allah melihat dengan cahaya Allah, merasa kasihan dengan orang yang bermaksiat kepada Allah, membenci perbuatan-perbuatan mereka, merasa kasihan kepada mereka dengan cara menasihati mereka untuk melepaskan mereka dari perbuatannya, dan menyayangkan badan mereka sendiri jika sampai terkena neraka”.[17]

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:


لاَ حَسَدَ إِلاَّ فِي اثْنَتَيْنِ: رَجُلٌ آتَاهُ اللهُ مَالاً فَهُوَ يُنْفِقُهُ آنَاءَ اللَّيْلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللهُ الْقُرْآنَ فَهُوَ يَقْرَؤُهُ آنَاءَ اللَّيْلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ.
"Tidak boleh hasad kecuali kepada dua orang: orang yang diberi harta oleh Allah kemudian ia menginfakkannya di pertengahan malam dan pertengahan siang dan orang yang diberikan Al-Qur`ân oleh Allah kemudian ia membacanya di pertengahan malam dan pertengahan siang" [18]

Dan beliau bersabda mengenai orang yang melihat orang lain menginfakkan hartanya dalam ketaatan kepada Allah, kemudian ia berkata:


لَوْ أَنَّ لِيْ مَالاً لَعَمِلْتُ بِعَمَلِ فُلاَنٍ . فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَأَجْرُهُمَا سَوَاءٌ .
"Seandainya aku memiliki harta, aku pasti mengerjakan seperti apa yang dikerjakan si fulan. Ia dengan niatnya itu, maka pahala keduanya sama".[19]

Adapun dalam hal kelebihan dunia, maka tidak boleh mengharapkan kelebihan seperti itu karena Allah Ta’ala berfirman, yang artinya: Maka keluarlah dia (Qarun) kepada kaumnya dengan kemegahannya. Orang-orang yang menginginkan kehidupan dunia berkata: "Mudah-mudahan kita memiliki harta kekayaan seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun, sesungguhnya dia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar". Tetapi orang-orang yang dianugerahi ilmu berkata: "Celakalah kamu! Ketahuilah, pahala Allah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, dan (pahala yang besar) itu hanya diperoleh oleh orang-orang yang sabar”. [al-Qashshash/28:79-80].

Tentang firman Allah Ta’ala.

"(Dan janganlah kalian iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain….) -Qs. an-Nisâ`/4 ayat 32- yang dimaksud ayat di atas adalah hasad, yaitu seseorang menginginkan keluarga atau harta seperti yang diberikan kepada saudaranya, dan berharap semua itu berpindah tangan kepadanya. Ayat di atas juga ditafsirkan dengan keinginan yang dilarang syari’at dan melawan takdir, misalnya seorang wanita ingin menjadi laki-laki, atau kaum wanita menginginkan kelebihan-kelebihan agama seperti yang diberikan kepada kaum laki-laki misalnya jihad, atau kaum wanita menginginkan kelebihan-kelebihan duniawi seperti yang dimiliki kaum laki-laki seperti warisan, akal, kesaksian, dan lain sebagainya. Ada juga yang menyatakan bahwa ayat di atas merangkum itu semua.

Kendati demikian, seorang mukmin harus bersedih karena tidak memiliki kelebihan-kelebihan agama. Oleh karena itu, dalam agama, seorang muslim diperintahkan melihat kepada orang yang berada di atasnya dan berlomba-lomba di dalamnya dengan mengerahkan segenap tenaga dan kemampuannya, seperti difirmankan Allah Ta’ala:

"…Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba". [al-Muthaffifîn/83:26].

Seorang muslim tidak boleh benci diikuti orang lain dalam masalah agama. Justru, ia menyukai seluruh manusia terlibat dalam persaingan dalam kelebihan-kelebihan agama dan menganjurkannya. Dan ingat, semua ini harus dilakukan semata-mata karena Allah Ta’ala.

Beliau mengisyaratkan bahwa pemberian nasihat kepada manusia ialah hendaklah seorang mukmin suka kalau manusia berada di atas kedudukannya. Ini kedudukan dan derajat tertinggi dalam nasihat, namun tidak diwajibkan. Namun yang diperintahkan dalam syari’at ialah hendaklah seorang mukmin suka kalau manusia seperti dirinya dalam berbuat kebajikan. Kendati demikian, jika ada orang yang mengungguli dirinya dalam kelebihan agama, ia berusaha keras mengejarnya, sedih atas kelalaian dirinya, dan gundah atas ketertinggalannya dari menyusul orang-orang yang lebih dahulu dalam kebaikan.

Seorang mukmin harus terus melihat dirinya lalai dari kedudukan tinggi karena sikap seperti itu membuahkan dua hal yang berharga: (1) berusaha keras dalam mencari keutamaan-keutamaan dan meningkatkannya, dan (2) ia melihat dirinya sebagai orang yang kurang sempurna. [20]

Jika seseorang mengetahui bahwa Allah memberikan kelebihan khusus kepada dirinya dan kelebihan itu tidak diberikan Allah kepada orang lain kemudian ia menceritakannya kepada orang lain untuk kemaslahatan agama, ia menceritakannya dalam konteks menceritakan nikmat, dan melihat dirinya lalai dalam bersyukur, maka hal ini diperbolehkan.

Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu 'anhuma berkata, “Aku membaca salah satu ayat Al-Qur`ân kemudian aku ingin seluruh manusia mengetahuinya seperti yang aku ketahui.”[21]

FAWA`ID HADITH
1. Diperbolehkan menafikan sesuatu karena tidak adanya kesempurnaan padanya, seperti sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam :


لاَ صَلاَةَ بِحَضْرَةِ الطَّعَامِ.
"Tidak ada shalat ketika makanan telah disajikan".[22]

Maksudnya, shalatnya tidak sempurna, karena hati orang yang shalat tersebut akan menjadi sibuk oleh makanan yang telah tersaji itu, dan contoh-contoh seperti ini sangat banyak.
2. Seseorang wajib mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri. Sebab, dinafikannya iman dari orang yang tidak mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri menunjukkan wajibnya perbuatan tersebut, karena keimanan tidak boleh dinafikan kecuali karena hilangnya sesuatu yang wajib padanya atau adanya sesuatu yang menafikan keimanan tersebut.
3. Termasuk keimanan pula membenci untuk saudaranya apa yang dibenci untuk dirinya sendiri.
4. Di dalam hadits ini terdapat celaan terhadap sikap egois, membenci orang lain, hasad dan balas dendam, karena orang yang di dalam hatinya terdapat semua sifat ini berarti tidak mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri, bahkan ia berharap nikmat yang Allah berikan pada saudaranya yang beriman itu hilang darinya. Nas-alullâhas-salâmah wal-‘âfiyah.
5. Setipa mukmin dan mukminah wajib menjauhi sifat hasad (dengki, iri) dan sifat buruk lainnya karena dapat mengurangi imannya.
6. Hadits ini menunjukkan bahwa iman itu bisa bertambah dan berkurang; bertambah dengan melakukan ketaatan dan berkurang dengan sebab melakukan maksiat.
7. Mengamalkan kandungan hadits ini menjadikan menyebarnya rasa cinta diantara pribadi-pribadi dalam satu masyarakat Islami dan akan saling tolong-menolong dan bahu-membahu sehingga bagaikan satu tubuh.
8. Mencintai kebaikan untuk seorang muslim merupakan salah satu cabang keimanan.
9. Berlomba-lomba dalam kebajikan merupakan kesempurnaan iman.
10. Anjuran untuk mempersatukan hati manusia dan memperkuat hubungan antara kaum mukminin.
11. Islam bertujuan menciptakan masyarakat yang harmonis dan penuh kasih sayang.
12. Umat Islam hendaknya menjadi laksana satu bangunan dan satu tubuh. Ini diambil dari bentuk keimanan yang sempurna yaitu mencintai untuk saudaranya apa yang dicintai untuk dirinya sendiri. Wallâhu a’lam.

Maraji’:
1. Al-Qur`ân dan terjemahnya.
2. Al-Mu’jamul Kabîr.
3. Al-Wâfi fî Syarhil Arba’în an-Nawawiyyah, karya Dr. Musthafa al-Bugha dan Muhyidin Mustha.
4. Jâmi’ul ‘Ulum wal Hikam, karya Ibnu Rajab al-Hanbali. Tahqîq: Syu’aib al-Arnauth dan Ibrahim Bâjis.
5. Kutubus-Sab’ah.
6. Musnad Abi ‘Awanah.
7. Musnad Abu Ya’la.
8. Qawâ’id wa Fawâ`id minal-‘Arba’în an-Nawawiyyah, karya Nazhim Muhammad Sulthan.
9. Shahîh Ibni Hibban dengan at-Ta’liqâtul-Hisân ‘ala Shahîh Ibni Hibban.
10. Silsilah al-Ahâdîts ash-Shahîhah.
11. Syarhul Arba’în an-Nawawiyyah, karya Syaikh Muhammad bin Shâlih al-‘Utsaimin.
12. Syarhus-Sunnah lil-Baghawi.
13. Tafsîr Ibni Jarir ath-Thabari.
14. Dan kitab-kitab lainnya.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 03//Tahun XII/1429H/2008M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]
_______
Footnote
[1]. Silsilah al-Ahâdîts ash-Shahîhah (I/1/155-156).
[2]. Lihat Jâmi’ul ‘Ulûm wal-Hikam (I/302).
[3]. Shahîh. HR al-Bukhâri (no. 2475), Muslim (no. Muslim no. 57), Ahmad (II/376), dan Ibnu Hibban (no. 186-At-Ta’lîqâtul-Hisân), dari Sahabat Abu Hurairah.
[4]. Shahîh. HR. Al-Bukhâri (no. 6016), Muslim (no. 46), dan Ahmad (II/288) dari Sahabat Abu Hurairah.
[5]. Syarah Shahîh Muslim (II/16).
[6]. Fat-hul Bâri (I/57).
[7]. Syarah Shahîh Muslim (II/17).         
[8]. Lihat Jâmi’ul ‘Ulûm wal-Hikâm (I/303).
[9]. Hasan. HR Abu Dawud (no. 4681) dan al-Baghawi dalam Syarhus-Sunnah (no. 3469) dari Abu Umamah al-Bahili Radhiyallahu 'anhu . Hadits ini dihasankan oleh Syaikh al-Albâni dalam Silsilah al-Ahâdîts ash- Shahîhah (no. 380), dan hadits ini memiliki beberapa syawahid.
[10]. Shahîh. HR Muslim (no. 1844), Ahmad (II/161), Abu Dawud (no. 4248), an-Nasâ`i (VII/153), dan Ibnu Majah (no. 3956) dari Sahahabat ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash c .
[11]. Shahîh. HR Muslim (no. 1826), Abu Dawud (no. 2868), an-Nasâ`i (VI/255), dan Ibnu Hibban (no. 5538-at-Ta’lîqâtul-Hisân).
[12]. Shahîh. HR al-Bukhâri (no. 6011), Muslim (no. 2586) dan Ahmad (IV/270), dari Sahabat an-Nu’man bin Basyir Radhiyallahu 'anhu , lafazh ini milik Muslim.
[13]. Jâmi’ul ‘Ulûm wal-Hikam (I/306).
[14]. Lihat Tafsîr ath-Thabari (X/114-115).
[15]. Shahîh. HR Ahmad (I/385) dan al-Hakim (IV/182).
[16]. Sunan Abi Dawud (no. 4092) dengan sanad yang shahîh.
[17]. Jâmi’ul ‘Ulûm wal-Hikam (I/308).
[18]. Shahîh. HR Ahmad (I/385, 432), al-Bukhâri (no. 73), Muslim (no. 816), Ibnu Majah (no. 4208), dan Ibnu Hibban (no. 90-at-Ta’lîqâtul-Hisân) dari Sahabat Ibnu Mas’ud.
[19]. Shahîh. Diriwayatkan oleh Ahmad (IV/230-231), at-Tirmidzi (no. 2325), Ibnu Majah (no. 4228), al-Baihaqi (IV/ 189), al-Baghawi dalam Syarhus-Sunnah (XIV/289), dan ath-Thabrani dalam Mu’jamul- Kabir (XXII/ 345-346, no. 868-870), dari Sahabat Abu Kabsyah al-Anmari Radhiyallahu 'anhu.
[20]. Lihat Jâmi’ul ‘Ulûm wal-Hikam (I/308-309).
[21]. Jâmi’ul ‘Ulûm wal Hikam (I/310).
[22]. Shahîh. HR Muslim (no. 560).

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas:


 Sumber:

23 May 2012

..WaRkAh ke SyuRGa..


  Tuhan..
Malam ini kembali aku mengentuk pintu-Mu
Lewat rasanya doa dan pujian yang terlantun
Dalam isak tangis yang menghiba

Ku bersimpuh di ribaan Mu
Pada setiap waktu ku yang tersisa
Berusaha untuk tetap tegak dan teguh
Menghadang setiap badai dalam hidup
Menepis gemuruh ragu dalam kalbu

ALLAH..
Engkaulah kekuatan dalam setiap jengkal nadi ku
Mencengkam erat di setiap hembusan nafasku
Membuncah rasa rindu ku pada Mu
Menggema di dalam relung kalbu

Aku takut ya Rabb..
Tidak dapat memenuhi setiap janji yang terucap
Tidak dapat menahan kenikmatan dunia yang mempesona
Bahkan tak mampu kendalikan nafsu yang membelenggu

Ya,nafsu ini begitu kuat menggoda
Berusaha luruhkan rasa CINTA ku pada Mu
Memesongkan nikmat yang telah kau beri
Menafikan engkau seakan engkau tiada

Bantulah aku ya Rabbi..
Tepiskanlah segala resah yang menyelimuti hati
Hilangkan semua gelisah yang memeluk jiwa
Buang setiap keraguan yang mendakap kalbu
Hulurkan tangan Mu di sepanjang jalan ku
Berikan Cahaya Mu menerangi langkah ku
Jangan biarkan aku rebah lagi dalam lumpur dosa

Pimpinlah aku ya ALLAH..
Pegang erat jiwa ku yang selalu ingin mengembara
Berkelana mencari cinta hakiki Mu
Mengeja ayat demi ayat di dalam kitab suci Mu
Agar Kau tak berpaling dari ku

Tuhan..
Tutup semua pintu dosaku
Jangan biarkan lautan dosa menenggelamkan aku
Dalam buih-buih kenistaan yang menggunung
Izinkan aku menjejak kaki langit
Mencari dan menemukan cinta sejatiku
Kerana aku tahu ya Rabbi..
Hanya cinta Mu yang paling hakiki






20 March 2012

.. KitA lEbiH pErlu KePadA keBAikAn iTU ..

Tidak mudah untuk melakukan kebaikan.Kadang-kadang yang melakukan kebaikan pun akan diuji.Bila sentiasa melakukan kebaikan,kadang-kadang,terlintas di hati kita ...

"Oh,aku dah qiam pg tadi.Bagus juga aku ni.Diaorang tu dhla tak buat lgsung,subuh pn lambat.."
"aku dh puasa sunat hari Khamis hari tu.Cukuplah."
"Aku buat begini,begini dan begitu,terpaksa pula berdepan dgn sush payah,tetapi mereka itu,dahla tak buat apa yang aku buat,lepas itu tak perlu bersusah payah macam aku."



KITA AKAN RASA MARAH,TAK PUAS HATI BILA MELIHAT ORANG LAIN BERSENANG-LENANG TIDAK MELALUI KESUSAHAN YANG SAMA.

Bila kita bandingkan kebaikan yang kita buat dengan org lain,kita akan rasa marah dan geram bila melihat kita bersusah payah untuk buat kebaikan itu sedangkan orang lain pula tidak bersusah payah macam kita.Bila kita bandingkan kita bandingkan betapa susah payahnya kita buat sesuatu kebaikan ,kemudian kita tengok orang lain pula ambil mudah saja dengan kebaikan tersebut. Kalau mereka rasa nak buat,buat. Rasa tak mahu,tinggalkan.Ya,memang kita akan rasa marah dan geram pun. Kita berpenat lelah,berusaha mengubah diri dgn bersungguh-sungguh dari kurg baik menjadi yang lebih baik,tetapi orang lain yg sudh lebih baik darikita tetapi tidak bersunggguh-sungguh melakukan kebaikan seperti kita. Kita susah payah bangun malam utk Qiamullail,org lain buat lebih kurg saja.Kadang-kadang subuh pun sengaja tak terjaga.



URM..BERHENTI DULU.. MARI KITA TENGOK DIRI KITA ..
mari kita berhenti sekejap melihat apa yg org lain tidak buat.
BOLEH JADI KITA INI MEMERLUKAN KEBAIKAN ITU LEBIH DARI MEREKA
kadg-kadg ada baiknya perkara ini jadi kepada kita. Kita susah payah melakukan kebaikan,sedangkan org lain ambil mudah sahaja dengan kebaikan itu. Bila fikir-fikir semula,ada bagusnya.Ada kemungkinan kita ini,dosa lebih banyak daripada mereka itu.Mungkin kebaikan mereka tidaklah sebanyak kita ataupun mungkin mereka taklah baik sangat.Tetapi,sekurang-kurangnya dgn apa yg mereka tahu dan mampu,masih berusaha jaga diri mereka.Pandanglah diri kita lebih dari orang lain. Boleh jd dgn sebab banyaknya dosa dan kesilapan pada hati kita,maka kita lebih perlu kpd kebaikan yg kita lakukn itu berbanding org yg kita bandingkan itu.
Biar org lain tidak buatpun kebaikan itu sepertimana kita buat.Tetapi,kita tetap teruskan seperti biasa.Kerana hakikat sebenar,kita mungkin lebih memerlukan kebaikan itu utk membersihkan jiwa kita drpd dosa-dosa yg banyak berbnding org lain.
SEBAB ITU,JANGANLAH TERTIPU DENGAN KEBAIKAN YG KITA PERNAH LAKUKAN..
ada org rasa cukup dan rasa puas dgn sedikit kebaikan yg telah dilakukannya. Ada org melihat,bila dia telah melakukan kebaikan ,maka itu sudah cukup.Org lain tak baik,tak ada masalah baginnya.ada org pula,bila dirinya siuk dengan kebaikan itu,dan bila dia perhatikan org di sekitarnya tidak sibuk dengan kebaikan juga,maka dia menyalahkan org-org itu pula yg tidak meyibukkan diri sama seperti dia.

JOM HAYATI KISAH INI..


... Ada seorang abid telah beribadah selama hampir 500 tahun lamanya.Setelah tiba masa perhitungan di depan Allah,Beliau minta kepada Allah "ya Allah,aku tak mahu masuk syurga dengan rahmat-Mu,tetapi aku mahu masuk syurga dengan amal ibadahku." Cukuplah Allah mengambil sebiji matanya untuk ditimbang dengan amalannya selama 500 tahun,dan ternyata sebiji matanya lebih berat timbangannya daripada amalnya yg selama hampir 500 tahun.Baru sebiji mata,itupun sudah tidak mampu dibayar dengan harga amalan selama 500 tahun.Maka,ketika itu si abid pun berkata ",aku ingin masuk syurga dengan rahmat-Mu..


MAKA,YANG KITA PERLU ADALAH MENGHITUNG DOSA,BUKAN SIBUK MENGHITUNG BANYAKNYA PAHALA..


Kita hidup tidak sampai 100 tahun,lalu bahagian nikmat Allah yang mana mampu kita bayar?..
Dan jangalah sangka,org lain yg masih bergelumang dgn dosa mereka hari ini,memang pasti akan masuk neraka.Boleh jadi mereka yg hari ini,tidak hidup dengan cinta terhadap kebaikan,kalau hari esok mereka berubah,mereka mungkin lebih baik daripada kita.Ataupun boleh jadi juga,kita yang hari ini hidup dalam kebaikan,suka buat baik,tiba-tiba esok kita berubah menjadi lebih teruk dari mereka.


Maka,apakah yang masih menjadikan kita tidak puas hati, geram bila orang lain tidak melakukan sama seperti apa yang kita lakukan? Bila kita sibuk memikirkan betapa banyaknya dosa kita,dan betapa sikitnya kebaikan kita dibandingkan dengan dosa yang dilakukan,makat tidak ada ruang  utk kita sibuk dgn perasaan tidak puas hati kita terhadap kebaikan yang tidak dilakukan oleh orang lain.Bila kita memikirkan masih banyak dosa yang belum dibersihkan,maka tidak ada kebencian terhadap manusia yang tidak melakukan kebaikan seperti apa yang kita lakukan.


Teruskan lah dengan kebaikan yg kita lakukan .Jangan rasa lelah bila melihat orang lain tidak melakukannya.Kerana Allah sentiasa ada memerhati kita..


10 March 2012

.. istiMeWa nYa waNIta ..


Dalam sesebuah rumah tangga, dua peranan utama yang sewajarnya dimainkan oleh seseorang wanita iaitu sebagai isteri dan ibu. Seorang isteri sentiasa mendampingi suaminya sama ada dalam keadaan susah atau senang. Ibu pula terbabit secara langsung dalam memberi pendidikan kepada anak-anak serta menjaga hal ehwal rumah tangga dengan bantuan suami. Firman Allah:

“Sesungguhnya, Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Surah an-Nisaa’, ayat 58)


Islam membenarkan wanita keluar bekerja berdasarkan kepada keperluan seperti ketika ketiadaan suami, ketidakupayaan suami atau bekerja dalam jawatan yang memerlukan khidmat wanita seperti doktor, tenaga pengajar kepada kaum wanita serta bidang lain yang bersesuaian. Bagaimanapun menurut Islam, keharusan wanita untuk keluar bekerja mestilah mengikut batas syarak iaitu:

Kerja itu mesti bersesuaian dengan sifat kewanitaan.
  • Kerja itu tidak menjejaskan peranannya sebagai isteri dan ibu.
  • Bertujuan murni sama ada untuk membantu keluarga atau menyampaikan kesedaran Islam kepada wanita lain.
  • Sentiasa memelihara kehendak syarak seperti menutup aurat.
  • Sentiasa menjaga tata susila dan terhindar daripada berlakunya pergaulan bebas dengan lelaki.
  • Mendapat restu daripada penjaga, bapa atau suami.
  • Mengelak daripada melakukan perkara yang boleh membawa fitnah sama ada dari segi tindakan, cara berpakaian atau mengenakan perhiasan.
  • Apa yang pasti dengan keluarnya wanita bekerja tidak akan mengubah atau mengabaikan tanggungjawabnya utama sebagai serikandi dan bidadari dalam rumah tangga.



Bagi wanita yang bekerjaya walaupun penat dengan tugas-tugas di pejabat dan di rumah, ingatlah bahawa mudahnya para wanita terutamanya berstatus isteri mendapat pahala. Kejarlah ganjaran di akhirat kelak.

1. Seorang wanita yang jahat adalah lebih buruk daripada 1000 orang lelaki yang jahat.

2. Dua rakaat solat daripada wanita hamil lebih baik daripada 80 rakaat solat wanita yang tidak hamil.

3. Wanita yang beri susu kepada anaknya daripada buah dadanya akan mendapat satu pahala daripada setiap titik susu yang diberikannya.

4. Apabila suami pulang ke rumah dalam keadaan letih dan isteri layan dengan baik akan mendapat pahala jihad.

5. Seorang isteri yang habiskan malamnya dengan tidur yang tidak selesa kerana menjaga yang sakit dapat pahala seperti membebaskan 20 orang hamba.

6. Isteri yang melihat suami dengan kasih sayang dan suami pula melihat isteri dengan penuh kasih sayang, Allah s.w.t. akan pandang dengan penuh rahmat.

7. Wanita yang menyebabkan suaminya keluar di jalan Allah s.w.t. dan kemudian menjaga rumahtangganya akan masuk syurga 500 tahun lebih awal daripada suaminya dan jadi ketua kepada 70 000 Malaikat dan bidadari. Wanita itu akan dimandikan dalam syurga lalu menunggu suaminya sambil menaiki kuda yang dibuat dari permata Yaqut.

8. Wanita yang tidak cukup tidur pada malam hari kerana menjaga anak yang sakit akan diampun oleh Allah s.w.t. seluruh dosanya dan bila dia hiburkan hati anaknya Allah s.w.t. memberinya 12 tahun pahala ibadat.

9. Wanita yang memerah susu binatang dengan bacaan “Bismillah” didoakan oleh binatang itu dengan doa keberkatan.

10. Wanita yang menguli tepung dengan “Bismillah” Allah s.w.t. akan berkatkan rezekinya.

11. Wanita yang menyapu lantai dengan berzikir dapat pahala seperti menyapu lantai Baitullah.

12. Wanita yang menjaga solat, puasa dan taat pada suami, Allah s.w.t. mengizinkannya masuk syurga dari mana-mana pintu yang ia kehendaki.

13. Pahala bagi wanita hamil adalah seperti berpuasa pada siang hari dan beribadat pada malam hari.

14. Wanita yang bersalin akan dapat pahala 70 tahun solat dan puasa dan setiap kesakitan pada satu uratnya Allah swt. akan beri satu pahala haji.

15. Sekiranya wanita itu meninggal dunia dalam masa 40 hari selepas bersalin ia dikira mati syahid.

16. Apabila seorang wanita yang menyusukan anaknya yang menagis diwaktu malam dengan sabar, dia dapat pahala satu tahun sembahyang dan puasa.

17. Kalau wanita menyusui anaknya sampai cukup tempoh 2 suku tahun maka malaikat di langit datang bawa khabar gembira bahawa syurga wajib bagi kamu.

18. Kalau isteri layan suami tanpa khianat dapat pahala 12 tahun solat.

19. Wanita yang picit suami tanpa disuruh dapat pahala 7 tola emas manakala isteri yang picit suami bila disuruh akan dapat pahala 7 tola perak.

20. Wanita yang meninggal dunia dengan dapat keredhaan suaminya, dia akan masuk syurga.

21. Seorang wanita solehah lebih baik daripada 70 orang lelaki yang soleh.

22. Jika suami mengajar satu masalah agama pada isterinya dia akan dapat pahala 80 tahun ibadat.

23. Semua orang akan dipanggil untuk melihat wajah Allah swt di akhirat tetapi Allah swt sendiri akan datang pada wanita yang memberati auratnya iaitu yang memakai purdah di dunia ini dengan istiqamah (tetap).

24. Seorang isteri yang menyambut baik kedatangan suaminya yang dalam keadaan marah, Allah swt beri kepadanya setengah pahala jihad.

25. Allah swt berkati dalam rezeki bila seorang wanita memasak dengan zikir Bismillah.

26. Allah swt akan melaknati wanita yang sengaja mendedahkan auratnya kepada lelaki yang bukan muhrimnya.

#sumber My ibrah

13 February 2012

.. Khutbah Terakhir Nabi Muhammad SAW..

9 ZULHIJJAH TAHUN 10 HIJRAH, DI LEMBAH URANAH, GUNUNG 'ARAFAH

"Wahai manusia dengarlah baik-baik apa yang hendak ku katakan !!! Aku tidak mengetahui apakah aku dapat bertemu lagi dengan kamu semua selepas tahun ini. Oleh itu dengarlah dengan teliti kata-kataku ini dan sampaikanlah ia kepada orang-orang yang tidak dapat hadir di sini pada hari ini.

Wahai manusia, sepertimana kamu menganggap bulan ini dan kota ini sebagai suci maka anggaplah jiwa dan harta setiap orang Muslim sebagai amanah suci. Kembalikan harta yang diamanahkan kepada kamu kepada pemiliknya yang berhak.

Janganlah kamu sakiti sesiapapun agar orang lain tidak menyakiti kamu pula. Ingatlah bahwa sesungguhnya kamu akan menemui Tuhan kamu dan Dia pasti akan membuat perhitungan atas segala amalan kamu. Allah telah mengharamkan riba', oleh itu segala urusan yang melibatkan riba' hendaklah dibatalkan mulai sekarang.

Berwaspadalah terhadap syaitan demi keselamatan agama kamu. Dia telah berputus asa untuk menyesatkan kamu dalam perkara-perkara besar maka berjaga-jagalah supaya kamu tidak mengikutinya dalam perkara-perkara kecil.

Wahai manusia, sebagaimana kamu mempunyai hak atas para isteri kamu, mereka juga mempunyai atas kamu. Sekiranya mereka menyempurnakan mereka ke atas kamu maka mereka juga berhak untuk diberi makan dan pakaian dalam suasana kasih sayang.

Layanilah wanita-wanita kamu dengan baik! dan berlemah lembutlah terhadap mereka kerana sesungguhnya mereka adalah teman dan pembantu kamu yang setia. Dan hak kamu ke atas mereka ialah mereka sama sekali tidak boleh memasukkan orang yang kamu tidak sukai ke dalam rumah kamu dan dilarang melakukan zina.

..cAra RasuLulLah SAW mEnjagA kEsihAtaN diRi..

Wahai manusia, dengarlah bersungguh-sungguh kata-kataku ini. Sembahlah Allah, dirikanlah solat lima kali sehari, berpuasalah di Bulan Ramadhan, tunaikanlah zakat dan harta kekayaan kamu dan kerjakanlah ibadah haji sekiranya mampu.

Ketahuilah bahawa setiap Muslim adalah saudara kepada Muslim yang lain. Kamu semua adalah sama; tidak ada seorangpun yang lebih mulia dari yang lainnya kecuali dalam taqwa dan amal soleh.

Ingatlah bahawa kamu akan mengadap Allah pada suatu hari untuk dipertanggungjawabkan atas segala apa yang telah kamu lakukan. Oleh itu, awasilah tindak-tanduk kamu agar jangan sekali-kali kamu terkeluar dari landasan kebenaran selepas ketiadaanku.

Wahai manusia, tidak ada lagi Nabi atau Rasul yang akan datang selepasku dan tidak akan lahir agama baru. Oleh itu wahai manusia, nilailah dengan betul dan fahamilah kata-kataku yang telah disampaikan kepada kamu.

Sesungguhnya aku tinggalkan kepada kamu dua perkara yang sekiranya kamu berpegang teguh dan mengikuti kedua-duanya nescaya kamu tidak akan tersesat selama-lamanya. Itulah Al-Quran dan Sunnahku.

Hendaklah orang-orang yang mendengar ucapanku ini menyampaikannya pula kepada orang lain dan hendaklah orang yang lain itu menyampaikannya pula kepada orang lain dan begitu seterusnya.

Semoga orang yang terakhir yang menerimanya lebih memahami kata-kataku ini dari mereka yang mendengar terus dariku. Saksikanlah Ya Allah, bahawasanya aku telah sampaikan risalah-Mu kepada hamba-hamba- Mu. "





29 January 2012

.. bUat umAt MuhAmmaD SAW ..

         Nabi Muhammad SAW amat sayangkan umatnya hingga pada nafas terakhir,baginda masih menyebut-nyebut 'ummati' berulangkali hingga nafas terakhir.SubhanALLAH.. Bagaimanakah kita sebagai umatnya? Adakah perasaan sayang padanya wujud dalam hati kita?

         Peristiwa ini terjadi ketika Nabi SAW menerima wahyu supaya naik ke 7 lapis langit untuk menghadap Allah SWT ketika Isra' dan Mikraj. Setelah berangkat Nabi Muhammad SAW menuju ke suatu tempat,yang belum pernah seorang Rasul atau Malaikat sampai.Setibanya di situ,Allah SWT memulakan dengan mengucapkan salam kepada baginda.Kemudian,DIA menghampiri hambaNYA serta sampaikan wahyu NYA.Lalu berkata NAbi Muhammad SAW " Ya Tuhanku! Berikan lah sesuatu untuk umatku! " Maka Allah SWT berfirman: "Hai Muhammmad! Aku telah berikan khusus untuk umatmu lapan perkara yang belum pernah Aku berikan kepada sesiapa pun dari umat yang lain sebelummu itu :

1. Aku belum pernah mencipta sesuatu makhluk di langit mahupun di bumi yang lebih mulia dari umatmu.

2. Sesungguhnya seratus dua puluh empat ribu daripada para Nabi sentiasa rindu ingin menemuimu berserta umatmu.

3.Sesungguhnya Aku tiada memberi umatmu banyak harta,sebagaimana yang Aku berikan kepada umat-umat sebelumnya supaya tiada terlalu panjang perkiraan mereka nanti di hari kiamat,semua itu Aku lakukan ialah kerana rahmat dan belas kasihan kepada mereka.

4.Sesungguhnya Aku tiada memberikan umatmu banyaknya harta dan anak pinak ,sebagaimana yang berlaku pada umat-umat sebelumnya,sehingga mereka kufur dan mengingkari nikmatKu.

5.Sesungguhnya Aku tiada memanjangkan umur mereka,sehingga terkumpul pada mereka dosa-dosa yang dilakukan,sebagaimana yang berlaku pada umat-umat sebelum kamu.

6. Sesungguhnya Aku tiada membalas umatmu atas setiap dosa yang dilakukannya,sebagaimana yang aku lakukan terhadap umat-umat sebelum kamu.

7. Sesungguhnya Aku melewatkan umatmu keluar hingga ke akhir zaman dan Aku jadikan mereka umat terakhir di antara semua umat,sehingga tiada terlalu lama mereka duduk di dalam tanah.

8.Sesungguhnya Aku tiada mendedahkan rahsia mereka,sebagaimana Aku dedahkan rahsia-rahsia umat-umat sebelum kamu sera berita-berita mereka kepadamu dan kepada umatmu,dan sesungguhnya tiada lagi Nabi dan Al-Quran sesudahmu.


"Kesemua keutamaan2 ini adalah kerana engkau,hai Muhammad dan kerana berkatmu "